Seni Lukis

 

MAKALAH ILMU BUDAYA DASAR

TENTANG :

Seni Lukis Berjudul : Melukis di Taman (Sumatera Utara)


DOSEN PEMBIMBING

ElY SAPTO UTOMO

 

Disusun oleh :

Anggi Fitri Elisah (10220170)

 

JURUSAN MANAJEMEN
UNIVERSITAS GUNADARMA
JAKARTA

 

 

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

BAB I PENDAHULUAN

      1.1  Latar Belakang

     1.2  Rumusan Masalah

      1.3 Tujuan Masalah

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Konsep Karya

2.2 Tema

2.3 Gaya

2.4 Matrial

2.5 Teknik

2.6 Proses Penciptaan Kerja

2.7 Kelebihan Lukisan

2.8 Kekurangan Lukisan

2.9 Makna Lukisan

 

BAB III

3.1 Kesimpulan

3.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA

 

 

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat-Nyalah sehingga kami mampu menyelesaikan makalah ini dengan baik. Makalah Ilmu Budaya Dasar tentang “ seni lukis”.

Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan baik dari segi isi, penulisan maupun kata-kata yang digunakan. Oleh karena itu, segala kritik dan saran yang bersifat membangun guna perbaikan bagi kami dalam membuat makalah  selanjutnya, akan kami terima dengan senang hati.

Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini Akhirnya tiada gading yang tak retak, meskipun dalam penyusunan makalah ini.Kami telah mencurahkan kemampuan, namun kami sangat menyadari bahwa hasil penyusunan makalah ini jauh dari sempurna dikarenakan keterbatasan data dan referensi maupun kemampuan kami.

Akhir kata, semoga makalah ini bisa memberikan suatu manfaat bagi kami selaku penyusun makalah pada khususnya dan bagi pembaca pada umumnya serta bisa menjadi tambahan referensi tentang Seni Lukis bagi penyusun makalah di masa yang akan datang

 

JAKTIM, 25 NOVEMBER 2020

 

ANGGI FITRI ELISAH

 

 

 

 

 

Pelaku Seni : Kartono Yudhokusumo

Judul             : Melukis di Taman

Ukuran         : 90 cm x 55 cm

Tahun           : 1952

 Medium       : oil pait, Canvas

Dipamerkan di : Koleksi Galeri Nasional NO. INV. 430/SL/B ini, lolos verifikasi dalam tahap Kajian dan Penilaian Tim Ahli Cagar Budaya.

 

 

 

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1            Latar Belakang Penciptaan Karya

 

 

 

Kartono Yudhokusumo lahir tahun 1926 di Medan. Tumbuh dan besar di tengah kehidupan rombongan pertunjukkan kethoprak, Kartono kecil tidak asing dengan dunia melukisi layar-layar pertunjukkan yang menjadi setting kethoprak - pekerjaan yang dilakukan ayahnya

Kartono menamatkan Sekolah Atas di Jakarta di bawah bimbingan salah seorang guru bernama: Syafe'i Sumardja. Sedangkan lingkaran seniman seperti S. Sudjojono dan Affandi pernah mondok dengan keluarga Kartono Yudhokusumo kurang-lebih selama 5 tahun.

Kartono berguru melukis pada banyak orang. Ia belajar di bawah sejumlah seniman, di antaranya: C. Yazaki, WFM. Bossardt, B.J.A. Rutgers (1934), T. Akatsuka (1934-1938), E. Dezentje (1936-1938), dan Ch. Sayers (1942-1945). Pada 1945 Kartono pindah ke Yogyakarta. Tahun 1943, ia mendapat penghargaan dari pameran tunggal yang disponsori Poetera (Poesat Tenaga Rakjat) dan beberapa penghargaan lain selama pendudukan Jepang.

 Ia bergabung dengan SIM (Seniman Indonesia Moeda) pada tahun 1946, dan dengan anggota-anggota SIM yang lain, Kartono ikut pergi ke Solo, tinggal selama 1947-1948. Ia pindah ke Madiun sementara waktu, dan di tempat ini ia menjadi pemimpin pertama dari Tunas Muda, sebuah asosiasi seniman.

Setelah tahun 1951, Kartono Yudhokusumo tinggal dan bekerja di Bandung, mengajar melukis dan mengepalai Sanggar Seniman, sebuah studio yang ia dirikan pada 1952 dengan bantuan dari Jawatan Kebudayaan, Kementrian Pendidikan. Karya-karya Kartono cukup banyak menjadi koleksi istana Presiden Sukarno. Kartono meninggal di Bandung, 11 Juli 1957 akibat kecelakaan lalu lintas.

 

1.2  Rumusan Masalah

a.       Konsep Karya

b.      Tema

c.       Gaya

d.      Matrial

e.       Teknik

f.        Proses Penciptaan Kerja

g.      Kelebihan Lukisan

h.      Kekurangan Lukisan

i.        Makna Lukisan

1.3  Tujuan Penulisan

         Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan dalam penulisan makalah ini sebagai berikut :

1.       Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Ilmu Budaya Dasar Pada Universitas Gunadarma

2.      Untuk mengetahui Lukisan asal daerah kita

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1            Konsep Karya


 Secara  umum, pada awal proses penciptaaan karya seni, seniman bersentuhan dengan rangsangan yang sengaja ditentukannya maupun tak sengaja  disentuhnya. Dalam persentuhan dengan rangsangan tersebut terjadi suatu gambaran bentuk ataupun suatu bentuk pemahaman dalam pemikirannya. Gambaran ataupun bentuk pemahaman itu adalah apa yang biasa disebut ide atau konsep.

 

2.2            Tema karya


Lukisan berjudul Melukis di Taman, berukuran 90 x 55 cm. Lukisan ini terbagi atas latar depan, latar tengah, dan latar belakang. Latar depan ditunjukkan dengan terlihat seorang laki-laki melukis model wanita dengan pakaian lebih modern diantara kerumunan wanita lain dalam pakaian kebaya. Selain hal itu menunjukkan setting sosial yang berkaitan dengan gaya hidup, juga bisa menjelaskan Romantisisme pada pelukisnya. Latar tengah, ditunjukkan dengan enam wanita memakai kebaya yang sedang duduk menjongkok memakai baju berwarna hijau dan ada juga yang duduk di bebatuan memakai baju hijau tua rok biru muda serta di belakangnya terdapat wanita berkebaya hijau muda yang memegang pohon kelapa ditemani oleh beberapa kuda kuning, hijau, merah muda yang berdiri tenang disemak atau pohon-pohon perdu kecil yang berdaun hijau kekuningan.          

Latar belakang ditunjukkan dengan empat rumah yang dua lainya berada didepan sawah atau pematang yang berisi air sehingga memeantulkan cahaya biru langit yang cerah. Serta di rumah yang masing- masing terdapat dua orang yang sedang bersalaman dan bercengkrama. Dan bagian samping rumah dipenuhi oleh pepohonan kelapa yang rindang serta pegunungan yang biru. Bagian latar belakang, terdapat beberapa pepohonan dalam bentuk pohon yang digayakan.

Dengan demikian dalam lukisan ini, terdapat banyak wanita dan laki-laki yang sedang bercengkrama. Wanita itu dengan beberapa posisi yang sedang melakukan aktivitas. Lukisan ini didominasi dengan warna hijau, biru, dan kuning. Bentuk-bentuk yang tampak di antaranya: pepohonan, sulur-suluran daun, ranting yang berwarna biru, hijau, dan coklat. Secara keseluruhan lukisan ini, terdapat bidang-bidang warna di antara berbagai bentuk. Hal itu ditunjukkan dengan permukaan tanah yang dibagi-bagi menjadi bidang-bidang. Sedangkan garis terdapat beberapa garis, seperti: garis lurus, pendek, panjang, dan lengkung.

 

2.3              Gaya

Lukisan yang berjudul Melukis di Taman ini, mengungkapkan kehidupan sehari-hari penduduk yang harmonis dan bercengkrama satu sama lain serta terlihat beberapa pasangan yang bercengkrama. Kecintaan penduduk yang bercengkrama sangat kuat berkat terjalinnya berbagai unsur dan bentuk-bentuk aktivitas yang dilakukan distilisasi. Ungkapan yang disampaikan dalam lukisan ini, di antaranya: kedekatan seorang wanita yang dilukis dengan seorang laki-laki pelukis banyak yang memakai baju kebaya yang sedang bercengkrama.

Dalam karya "Melukis di Taman" (1952) ini, terlihat bagaimana corak dekoratif itu benar-benar menjadikan jiwa. Semua objek dalam pemandangan itu digambarkan dengan rincian detail, baik yang ada di depan maupun di latar belakang yang jauh. Berbagai warna cerah pada objek juga lebih mencerminkan intuisi pelukis dari pada kenyataan yang ada di alam. Hal lain sebagai ciri genre lukisan ini adalah menggunaan perspektif udara (aerial perspective) yang memungkinkan cakrawala terlihat ke atas dan bidang gambar menjadi lebih luas, sehingga objek objek lebih banyak dapat dilukan.

 Dalam lukisan ini terungkap Romantisisme pelukis dalam membayangkan dunia yang utuh dan ideal. Wanita-wanita berkebaya yang bercengkerama dan berkasihan, manjadi bagian penting di antara pohon-pohon dan binatang dalam taman yang penuh warna. Hal lain yang menarik lagi yaitu pada sudut depan terlihat seorang laki-laki melukis model wanita dengan pakaian lebih modern di antara kerumunan wanita lain dalam pakaian kebaya.

Selain hal itu menunjukkan setting sosial yang berkaitan dengan gaya hidup, juga bisa menjelaskan Romantisisme pada pelukisnya. Dalam bawah sadarnya seorang romantis selalu ingin menghadirkan dunia ideal dan kontradiksi atau berbagai kenyataan yang terpecah-pecah. Besar kemungkinan tokoh sentral dalam karya-karyanya adalah manifestasi dunia ide yang dimunculkan, Namun demikian, dalam kebanyakan genre corak dekoratif, ada kesadaran bahwa alam adalah kosmos dan manusia hanya merupakan setitik bagian dari padanya. Oleh karena itu, dalam lukisan ini ego sang pelukis yang begitu ideal pun hanya diletakkan dalam bagian kecil, dari sudut lukisan yang sarat dengan objek dan kaya dengan warna. Bertitik tolak dari paparan di atas, dapat diringkas menjadi beberapa kata-kata penting, yakni: wanita berkebaya ,laki-laki pelukis, sawah, empat ekor kuda, rumah penduduk, pepohonan kelapa.

 

2.4             Material

Material berarti bahan, bakal, barang yang akan dijadikan atau untuk membuat barang yang lain. Dalam mengekspresikan ide, dituntut kepiawaian dalam memilih material yang cocok, agar ide yang akan diekspresikan sesuai dengan yang direncanakan, bahwa antara material dan seniman selalu terjaga semacam proses dialektik yang bisa berbeda-beda sehubungan dengan material yang berbeda-beda. 

Seringkali untuk mewujudkan maksud sebulat- bulatnya diperlukan material setepat-tepatnya. Lukisan ini di tuangkan di atas kanvas berukuran 90 x 55 cm , dengan menggukan cat minyak membuat lukisan ini menjadi terlihat lebih solid, dengan warna-warna cerah dan dominan merah sebagai bentuk penegasan rasa dari


 

2.5            Teknik

Keberadaan garis dalam lukisan ini, pada dasarnya berfungsi sebagai identitas bentuk, sehingga bentuknya dapat dikenali. Garis sebagai identitas bentuk, seperti halnya bentuk- bentuk yang tampak pada: wanita, laki-laki, lukisan, pepohonan , beberapa kuda, empat rumah Garis-garis yang ada terlihat cukup luwes, lemah gemulai mengikuti "bentuk" yang ritmis. Sebagian terdapat garis yang bebas atau garis yang saling tumpang tindih.

 Garis tersebut mendeskripsikan batas-batas atau kontras dari nada gelap terang, warna atau tekstur yang terjadi sepanjang batas-batas bentuk tersebut. Dengan demikian, rupa bentuk pada lukisan ini adalah bentuk yang terlihat dalam kaitannya dengan bentuk- bentuk yang lain atau ruang yang mengelilinginya. Bangun (shape) pada lukisan ini terjadi karena dibatasi oleh sebuah garis, juga dibatasi oleh warna yang berbeda atau oleh gelap terang. Hal itu ditunjukkan seperti pada figur wanita berkebaya dan laki pelukis yang duduk pada bagian latar depan, latar tengah, dan latar belakang.

 Bangun (shape) dalam hal ini mengalami perubahan di dalam penampilannya. Bangun/shape itu dapat dilihat dengan beberapa figur wanita berkebaya dan laki pelukis yang sengaja dilakukan deformasi. Artinya, bentuk-bentuk tersebut sebagai penggambaran bentuk yang menekankan pada interpretasi karakter, yaitu dengan cara mengubah bentuk objek atau dengan hanya sebagian yang dianggapnya mewakili karakter bentuk. Sedangkan warna-warna, seperti: hijau, kuning, biru, putih, coklat, hitam, dan oker yang hadir dalam lukisan ini menunjukkan suatu tanda pada bentuk yang membedakan ciri bentuk atau benda satu dengan yang lainnya.

 Demikian pula pembagian bidang lukisan yang terbagi atas latar depan, latar tengah, dan latar belakang membawa indera penglihatan kita terhadap ruang semu. Artinya, indera penglihatan menangkap bentuk dan ruang sebagai gambaran sesungguhnya yang tampak pada kanvas. Berdasarkan unsur-unsur seni di atas, menunjukkan prinsip pengorganisasian dalam lukisan. Unsur-unsur itu, seperti: wanita berkebaya, laki-laki pelukis, empat kuda, dan pepohonan kelapa ditata secara berdampingan dan menimbulkan prinsip keserasian. Artinya, letak wanita berkebaya yang sedang dilukis oleh seorang pelukis menunjukkan hukum realitas, yaitu sesuatu keadaan yang tidak jauh dari kenyataan di mana mata melihat.

Keberadan itu membawa bayangan kita pada komposisi segitiga, apabila ujung-ujungnya kita hubungkan satu dengan yang lain. Selanjutnya, ukuran badan wanita yang berada di depan serta di belakang tidak sama, seperti: besar, sedang, dan kecil juga menimbulkan susunan yang seimbang (mengingatkan pada hukum timbangan). Artinya, keseimbangan ini lebih rumit, tetapi lebih menarik perhatian, karena mempunyai kesan dinamika yang memberi kemungkinan variasi yang lebih banyak. Ia mempunyai keunikan yang didasarkan atas perhitungan kesan bobot visual dari unsur-unsur yang dihadirkan ataupun ukuran bentuk yang dominan.

Proporsi dan skala yang mengacu pada hubungan antara bentuk satu dengan yang lain dalam keseluruhan lukisan ini, ditunjukkan pada bentuk-bentuk yang terletak pada ketiga latar. Hal ini tampak pada warna, garis, dan bentuk yang terdapat dalam beberapa area tersebut. Bertitik tolak dari analisis formal di atas, dapat disimpulkan bahwa secara keseluruhan lukisan ini, yang berkaitan dengan fungsi garis adalah sebagai identitas bentuk, sehingga bentuknya secara umum dapat dikenali. Demikian juga dalam pengorganisasian unsur- unsur seni yang ada, penempatannya menimbulkan kesan seimbang, dan harmonis. Pengorganisasiannya menunjukkan keterpaduan secara utuh dan menyatu.

 

2.6            Proses Penciptaan Kerja

        1. Memunculkan gagasan

Setting sosial yang berkaitan dengan gaya hidup, juga bisa menjelaskan Romantisisme pada pelukisnya. Dengan demikian dalam lukisan ini, terdapat banyak wanita dan laki-laki yang sedang bercengkrama. Wanita itu dengan beberapa posisi yang sedang melakukan aktivitas. Lukisan ini didominasi dengan warna hijau, biru, dan kuning. Bentuk-bentuk yang tampak di antaranya: pepohonan, sulur-suluran daun, ranting yang berwarna biru, hijau, dan coklat. Secara keseluruhan lukisan ini, terdapat bidang-bidang warna di antara berbagai bentuk. Hal itu ditunjukkan dengan permukaan tanah yang dibagi-bagi menjadi bidang-bidang. Sedangkan garis terdapat beberapa garis, seperti: garis lurus, pendek, panjang, dan lengkung

2. Memilih bahan

Lukisan ini di tuangkan di atas kanvas berukuran 90 x 55 cm , dengan menggukan cat minyak membuat lukisan ini menjadi terlihat lebih solid, dengan warna-warna cerah dan dominan merah sebagai bentuk penegasan rasa dari pelukis.

3.          Menentukan Teknik

o   Teknik Plakat

Teknik melukis dengan menggunakan cat minyak dengaan sapuan warna yang tebal, sehingga menghasilkan warna yang padat dan menutup.

4.      Membuat Sketsa

Setelah bahan dapat ditentukan, langkah selanjutnya adalah membuat sketsa gambar. Yang dimaksud sketsa adalah gambar awal yang akan dibuat lukisan. Sketsa inilah yang nantinya diselesaikan menjadi sebuah lukisan yang sempurna.

5.      Menyempurnakan Lukisan

Tahap melukis yang terakhir adalah menyempurnakan /menyelesaikan sketsa yang telah dibuat yaitu dengan cara :

- Mewarnai sketsa dengan goresan tipis pada objek pokok (positif) dan latar belakangnya (negatif)

- Menyempurnakan lukisan dengan kontur, penyinaran (spot light), penegasan, dan penentuan gelap terang

 

 

 

2.7            Kelebihan Lukisan

  1. Lukisan ini memiliki corak lukisan yang benar-benar menjadikan lukisan ini memiliki jiwa.
  2. Objek-objek yang ada dalam lukisan ini dibuat dengan detail dan rinci, pada bagain depan maupun latar belakang dari lukisan ini.
  3. Berbagai warna cerah yang diterapkan oleh pelukis pada setiap objek yang ada dalam lukisan ini sangat mencerminkan intuisi dari pelukis daripada keadaan yang ada dialam secara nyata dan ini merupakan salah satu ciri genre lukisan yang menggunakan perpektif udara atau “Aerial Perpective” yang dengan ini memungkinkan cakrawala terlihat keatas yang berimbas pada bidang gambar yang menjadi terlihat lebih luas dan objek yang dilukis bisa lebih banyak sehingga Lukisan ini penuh dengan corak dan kaya akan warna.

 

2.8            kekurangan Lukisan

  1. Lukisan ini agak sedikit sulit difahami oleh orang awam yang kurang faham masalah seni lukis.
  2. Ada percampuran warna yang melebur atau menyatu entah disengaja maupun tidak disengaja yang mengakibatkan salah satu objek dalam lukisan menjadi melebur dengan objek lainnya.
  3. Ukuran lebar lukisan kurang dari 1 meter, sehingga lukisan kurang besar sehingga lukisan ini kurang pas apabila di letakan pada ruangan yang besar.

 

2.9            Makna Lukisan

 

*      Wanita Berkebaya 

 

1.      Wanita yang belum menikah atau telah menikah

2.      Menjadi objek bagi pelukis

3.      Menunjukkan sosok utama, sebagai teman diskusi, dan sebagainya

4.      Memiliki aktivitas dalam hidup 

 

*      Taman

 

 

1.      Sebidang tanah yang ditanami dengan aneka macam tanaman , pohon, dan tempat berkumpul bersama teman-teman.

2.      Wadah aktivitas dan kreatifitas juga berfungsi sebagai laboratorium

3.       Wadah rekreatif

4.       Berfungsi sebagai hiasan lingkungan

*      Kuda

 

1.      Binatang menyusui atau mamalia darat

2.      Binatang yang bisa diambil daging, susu dan utamanya adalah tenaga yang dihasilkan

*      Pohon Kelapa 

Cara Menggambar Pohon Kelapa - Cilacap Klik

1.      Pohon yang batangnya bisa digunakan untuk bahan bangunan

2.      Pohon yang daun mudanya bisa dibuat kerajian dan lidinya bisa digunakan untuk menjadi sapu

3.      Pohon yang buah kelapa mudanya dapat dimakan dan diminum serta buah kelapa tuanya dapat dijadikan santan

*      Rumah Penduduk

 KARTONO YUDHOKUSUMO, Bapak Seni Lukis Dekoratif Modern Indonesia -  Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya

1.       Tempat tinggal manusia yang memiliki segala macam fungsi di dalamnya

2.      Tempat yang dapat melindungi diri dari panas dingin dan segala macam cuaca

3.       Tempat yang terdiri dari macam macam ruangan dan disekati tembok penghalang

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

a.     Kesimpulan

Secara garis besar lukisan “Melukis di Taman” merupakan lukisan yang sangat menarik dan lukisan bergenre lukisan dekoratif yang memiliki nilai seni yang tinggi, walau ada sedikit kekurangan masih dapat di tolelir karena memang setiap seniman memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing dimana kekurangan tersebut sebenarnya malah bisa menjadi cirikhas dari seniman tersebut termasuk pula lukisan “Melukis di Taman” ini.

b.    Harapan

Diharapkan karya lukisan ini bisa diapresiasi oleh segenap lapisan masyarakat dan mampu menambah khasanah lukisan yang bertemakan “ Melukis di Taman”

.                                                                            

   

DAFTAR PUSAKA

 

v http://archive.ivaa-online.org/pelakuseni/kartono-yudhokusumo

v https://id.scribd.com/document/330370879/apresiasi-Lukisan-docx

v https://thegeekhost.com/kritik-seni/

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[ UTS NO 5] Jelaskan fungsi dan peran perbankan sebagai financial intermediary? produk-produk perbankan dari sisi source of fund dan use of fund!

Teori budaya

Alat Musik dan Lagu Daerah Sumatera Utara