Tari Lokal

 

MAKALAH ILMU BUDAYA DASAR

TENTANG :

Tari Tor -Tor Sipitu Cawan (Sumatera Utara)

 

DOSEN PEMBIMBING

ElY SAPTO UTOMO

 

Disusun oleh :

Anggi Fitri Elisah (10220170)

 

JURUSAN MANAJEMEN
UNIVERSITAS GUNADARMA
JAKARTA

 

 

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

BAB I PENDAHULUAN

      1.1  Latar Belakang

      1.2  Rumusan Masalah

      1.3 Tujuan Masalah

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Tari Tor-Tor Sipitu Cawan

2.2  Fungsi Tari Tor-Tor Sipitu Cawan

2.3 Makna Tari Tor-Tor Sipitu Cawan

2.4  Pertunjukan Tari Tor-Tor Sipitu Cawan

2.5 Pengiring Tari Tor-Tor Sipitu Cawan

2.6 Properti yang Digunakan Tari Tor-Tor Sipitu Cawan

2.7 Perkembangan Tari Tor-Tor Sipitu Cawan

2.1 BAB III

3.1 Kesimpulan

3.2 Saran

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

KATA PENGANTAR

            Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat-Nyalah sehingga kami mampu menyelesaikan makalah ini dengan baik. Makalah Ilmu Budaya Dasar tentang “ Tari tor-tor sipitu cawan”.

             Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan baik dari segi isi, penulisan maupun kata-kata yang digunakan. Oleh karena itu, segala kritik dan saran yang bersifat membangun guna perbaikan bagi kami dalam membuat makalah  selanjutnya, akan kami terima dengan senang hati.

          Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini Akhirnya tiada gading yang tak retak, meskipun dalam penyusunan makalah ini.Kami telah mencurahkan kemampuan, namun kami sangat menyadari bahwa hasil penyusunan makalah ini jauh dari sempurna dikarenakan keterbatasan data dan referensi maupun kemampuan kami.

         Semoga makalah ini dapat memenuhi syarat proses kegiatan belajar kami dalam Mata Kuliah Ilmu Budaya Dasar dan apabila terdapat kejanggalan-kejanggalan dalam penyusunan makalah ini kami mohon maaf dan sekali lagi kami mengucapkan terima kasih.

             Akhir kata, semoga makalah ini bisa memberikan suatu manfaat bagi kami selaku penyusun makalah pada khususnya dan bagi pembaca pada umumnya serta bisa menjadi tambahan referensi tentang tari tor-tor sipitu cawan bagi penyusun makalah di masa yang akan datang.

 

JAKTIM, 14 NOVEMBER 2020

 

ANGGI FITRI ELISAH

 

 

 

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1            Latar Belakang

 

 

 

       Suku Batak tak melulu dikenal sebagai suku yang Tegas dan bersuara Keras, Suku Batak juga terkenal dengan keunikan dan eksotisme kebudayaanya. Salah satu kebudayaan batak yang sudah sangat terkenal sampai keberbagai penjuru dunia yaitu Tortor. Tortor merupakan tarian khas dari tanah Batak. Menurut budayawan Togarma Naibaho, pendiri Sanggar budaya batak, Gorga, kata Tor-tor berasal dari suara hentakan kaki penarinya di atas papan rumah adat Batak. Penari bergerak dengan iringan Gondang yang juga berirama menghentak. Gerakan tortor merupakan kombinasi dari gerakan kaki (jinjit-jinjit) dan gerakan tangan.

 

     Tortor mengemban peran yang sangat penting dalam tatanan kehidupan orang batak, Tortor digunakan dalam berbagai acara / ritual acara-acara adat batak. Tortor batak itu sendiri sebenarnya beragam, tergantung pada penggunaanya dalam ritual/acara adat yang sedang dilangsungkan, beberapa jenis diantaranya seperti, Tortor Somba (tarian Menyembah), Tortor Pangurason (Tarian Pembersihan), Tortor tunggal Panaluan , Tortor Sipitu Cawan (Tarian Tujuh Cawan).

 

      Tortor Sipitu Cawan (Tortor Tujuh Cawan), . Sipitu berarti Tujuh, Seperti namanya, Ciri Khas dari Tarian ini adalah penggunaan Tujuh Cawan , Konon 7 cawan tersebut adalah simbol dari 7 Bidadari. Tari Tor Tor Sipitu Cawan mempunyai sebuah makna yang sangat disakralkan oleh masyarakat Batak, terutama dalam gerakan tarian yang ditampilkan oleh beberapa orang penarinya.

      Cawan tersebut berisikan yang berisikan air perasan Jeruk Purut diyakini masyarakat Batak sebagai media pembersihan, terutama pembersihan diri maupun lokasi dimana tarian Tor Tor Sipitu Cawan ini sedang di gelar. Sehingga apabila kita melihat beberapa pergelaran akbar masyarakat Batak, maka kita akan menemukan beberapa orang yang sedang melakukan tradisi pembersihan diri dan lokasi dengan menggunakan media jeruk purut dan beberapa media lainnya.

       Tari Tor Tor Sipitu Cawan ini biasanya dibawakan oleh para penari wanita dengan membawa beberapa cawan yang ditaruh di bagian badan sebagai ciri khas dan property menarinya. Tarian ini tergolong tarian sakral dan hanya ditampilkan di acara-acara tertentu saja. Selain kesakralannya, tarian ini memiliki gerakan yang sangat unik dan cukup sulit, sehingga tidak bisa dilakukan oleh sembarang penari. Namun karena itulah, Tari Tor Tor Sipitu Cawan ini tergolong sebagai tarian yang mempunyai nilai seni yang tinggi.

 

1.2  Rumusan Masalah

a.       Sejarah Tari Tor-Tor Sipitu Cawan

b.       Fungsi Tari Tor-Tor Sipitu Cawan

c.       Makna Tari Tor-Tor Sipitu Cawan

d.       Pertunjukan Tari Tor-Tor Sipitu Cawan

e.       Pengiring Tari Tor-Tor Sipitu Cawan

f.        Properti yang digunakan Tari Tor-Tor Sipitu Cawan

g.      Perkembangan Tari Tor-Tor Sipitu Cawan

 

1.3  Tujuan Penulisan

         Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan dalam penulisan makalah ini sebagai berikut :

1.       Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Ilmu Budaya Dasar Pada Universitas Gunadarma

2.       Untuk mengetahui sejarah,fungsi, makna, pengiring, properti tari tor-tor sipitu cawan

3.      Untuk mengetahui perkembangan dan pertunjukkan tari tor-tor sipitu cawan

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1            Sejarah Tari Tor-Tor Sipitu Cawan

 Tor Tor Sipitu Cawan – rusdiyani

    Tortor Sipitu Cawan (Tortor Tujuh Cawan), . Sipitu berarti Tujuh, Seperti namanya, Ciri Khas dari Tarian ini adalah penggunaan Tujuh Cawan , Konon 7 cawan tersebut adalah simbol dari 7 Bidadari. Berawal dari sebuah mimpi seorang raja batak keturunan Guru Tatea Bulan , di kawasan Desa Sianjur Mula-mula, Puncak Pusuk Buhit, Kabupaten Samosir.

       Dalam mimpinya, sang raja bermimpi bahwa kawasan pegunungan pusuk buhit tempat keturunan pertama si raja batak akan runtuh, sehingga, akibat mimpi tersebut sang raja pun terus menerus gelisah. Kemudian sang raja memerintahkan Panglimanya (Panglima Ulu Balang) agar memanggil seorang ahli nujum yang bergelar Guru Pangatiha untuk menanyakan arti mimpinya. Namun sang Guru Pangatiha mengaku tidak tahu arti mimpi sang raja, akan tetapi Guru Pangatiha meminta supaya raja menggelar sebuah acara ritual yang dinamakan acara membuka debata ni parmanukon atau membuka tabir mimpi.

        Oleh Guru Pangatiha, kemudian meminta sang raja agar acara membuka tabir mimpi ini dilaksanakan sebelum bulan purnama tiba atau dalam bahasa batak disebut Bulan Samisara. Akan tetapi, untuk membuka tabir mimpi itu jelas-jelas tidak dapat terpenuhi, akan tetapi untuk menangkis hal-hal buruk yang akan terjadi ke daerah kekuasaannya, Guru Pangatiha menghimbau agar sang raja memanggil seorang sibaso atau dukun perempuan, dimana dukun perempuan yang diyakini masih gadis itu bergelar SIBASO BOLON PANURIRANG PANGARITTARI.

 

        Selanjutnya, oleh dukun perempuan tersebut bersama enam gadis lainnya datang memenuhi panggilan raja untuk membersihkan daerahnya dari mara bahaya, ketujuh gadis tersebut kemudian menari sambil menjingjing sebuah mangkuk atau cawan dikepala masing-masing dengan diiringi alunan musik gondang batak. Dengan tarian barbau mistis, ketujuh gadis itupun menari-nari sambil menyiramkan air dalam sawan/cawan keseluruh arah penjuru desa. Hal ini dimaksudkan untuk mengusir roh-roh jahat yang akan masuk kewilayah kekuasaan raja.

Kemudian tari tor tor mengalami transformasi seiring masuknya agama Kristen di kawasan Silindung. Saat itu, budaya tor-tor lebih dikenal sebagai kesenian nyanyian dan tari modern. Tarian tor tor di Pahae dikenal dengan tarian gembira dan lagu berpantun yang disebut tumba atau pahae do mula ni tumba. Dari sinilah tari tor tor tidak lagi berkaitan dengan roh dan unsur gaib lain, akan tetapi menjadi perangkat kebudayaan yang melekat dalam kehidupan masyarakat Batak.

 

2.2            Fungsi Tari Tor-Tor Sipitu Cawan

 

§  Fungsi dalam jenis tarian ini ialah bersifat dinamis karena dapat mengikuti sebuah waktu. Awalnya, adanya suatu kehadiran tarian tradisional tersebut merupakan adanya sebuah persyaratan khusus atau tarian dalam pembersihan yang dapat dilakukan sebagai sebuah langkah sebelum upacara agar tetap halus dan jauh dari bahaya yang jahat

§  Bisa dikatakan bahwa dalam fungsi jenis tarian ini ialah sakral sehingga sejak dulu tarian ini hanya ditampilkan pada acara-acara tertentu seperti pengukuhan Raja dan acara sakral lainnya. Hingga kini aturan tersebut masih ditaati oleh masyarakat Batak, sehingga sangat jarang bagi kita untuk bisa melihat pertunjukan Tari Tor Tor Sipitu Cawan ini sewaktu-waktu.

 

2.3            Makna Tari Tor-Tor Sipitu Cawan

              Tari Tor Tor Sipitu Cawan ini tentu memiliki makna serta arti khusus di dalamnya, terutama pada segi gerak dan property yang digunakan untuk menari. Menurut budaya masyarakat Batak, setiap cawan yang digunakan para penari mewakili prinsip hidup masyarakat Batak. Begitu juga setiap gerakan dalam tarian ini juga memiliki nilai-nilai serta filosofi tersendiri yang mewakili budaya masyarakat di sana.

            Tarian Tor-tor  memiliki proses ritual yang harus dilalui. Pesan dari ritual tersebut ada 3 yaitu takut dan taat pada Tuhan, ritual untuk leluhur dan orang-orang yang masih hidup agar dihormati, dan terakhir pesan untuk khalayak ramai yang hadir ke dalam acara. Makna tarian ini juga ada tiga yakni untuk ritual, penyemangat jiwa dan sarana untuk menghibur. Durasi Tari Tor-tor bervariasi, mulai dari tiga hingga sepuluh menit. Di tanah Batak, hal ini tergantung dari permintaan satu rombongan yang mau menyampaikan suatu hal ke rombongan lain. Dimintalah satu buah lagu pada pemusik. Jika maksud sudah tersampaikan, barulah tarian dihentikan.

 

2.1             Pertunjukan Tari Tor-Tor Sipitu Cawan

          Dalam pertunjukannya, Tari Tor Tor Sipitu Cawan biasanya ditampikan oleh para penari wanita. Untuk jumlah penari biasanya terdiri dari 5-7 penari, dengan menggunakan busana khas Batak dan membawa cawan sebagai property menarinya. Cawan sendiri merupakan  sejenis wadah seperti mangkuk yang nantinya diletakan di bagian tubuh para penari saat menari.

 

      Gerakan dalam Tari Tor Tor Sipitu Cawan ini sangat unik dan setiap gerakannya tentu memiliki makna tersendiri di dalamnya. Selain itu tarian ini juga mempunyai tingkat kesulitan yang tinggi. Karena saat menari, penari juga membawa cawan berisi air perasan jeruk purut yang diletakan di atas kepala mereka. Salah satu yang menarik adalah ketika mereka juga meletakkan beberapa cawan di bagian pundak, lengan dan bagian atas telapak tangan mereka. Sehingga saat menari mereka juga harus mempertahankan keseimbangan agar cawan tersebut tidak jatuh.

 

         Tentunya Tari Tor Tor Sipitu Cawan ini tidak bisa dilakukan oleh sembarang penari. Selain dibutuhkan keterampilan dan latihan yang cukup lama, penari juga harus memiliki kekuatan dan jiwa yang suci. Hal ini dikarenakan sifatnya yang sakral, sehingga ada beberapa aturan atau pakem dalam melakukannya. Dalam tradisi masyarakat Batak biasanya penerus tarian ini adalah keturunan dari generasi penari sebelumnya.

 

2.5             Pengiring Tari Tor-Tor Sipitu Cawan

 

Tari sipitu cawan biasanya diiringi oleh alat Musik tradisional yang sering disebut dengan Gondang. Musik gondang sendiri merupakan salah satu alat Musik tradisional sejenis Gendang yang khas dari Batak. Dalam mengiringi Tari Tor Tor Sipitu Cawan ini tentu irama yang dimainkan juga harus disesuaikan dengan gerakan para penari agar terihat padu dan selaras.

 

2.6            Properti Yang Digunakan Tari Tor-Tor Sipitu Cawan

 

1.      Tutup Kepala

 Tutup Kepala

          Para penari Tor Tor biasanya akan mengenakan tutup kepala atau biasanya disebut ikat kepala. Ikat kepala ini terbuat dari bahan kain ulos yang halus. Cara mengenakannya yaitu dilingkarkan pada bagian kepala penari dan dilengkapi dengan pernak-pernik berbentuk bunga kuningan sebagai hiasannya.

        Jika penarinya terdiri dari kaum wanita, selain menggunakan ikat kepala, penari  juga akan ditambahkan properti lain berupa tusuk konde berwarna emas. Properti ini bertujuan untuk menambah keanggunan dan kecantikan para penari sehingga mampu menambahkan estetika dalam tarian yang ditampilkan.

2.      Busana Berbentuk Kemben

 Busana Berbentuk Kemben

         Meskipun dalam tampilan tari Tor Tor sering mengalami perbedaan, akan tetapi busana yang dikenakan penari Tor Tor mayoritas berbentuk kemben. Kemben yaitu bagian penutup dada yang berupa kain panjang, cara pemakaiannya dililitkan pada bagian dada hingga ke pinggul.

            Kemudian pada bagian luarnya ditutup menggunakan baju luaran seperti rompi dan dihiasi dengan bordiran benang berwarna emas yang memberikan kesan mewah. Corak dan bordiran pada busana yang digunakan penari Tor Tor  cukup banyak, sehingga tidak ada aturan atau ketentuan yang harus diterapkan.

3.      Kain Slendang

 Kain Slendang

  Kain slendang merupakan salah satu properti tari Tor Tor yang tidak boleh ditinggalkan. Kain slendang ini bentuknya panjang dan terbuat dari kain ulos yang halus. Pemakaian selendang ini akan dislempangkan dari bagian bahu dan menjulur sampai pada bagian betis kaki.

       Untuk menahan slendang agar tidak jatuh ketika melakukan gerakan tari, maka akan ditambahkan kain yang diikatkan pada pinggang.

4.      Tas dari Bahan Anyaman

 Tas dari Bahan Anyaman

           Ada dua jenis tarian Tor Tor dari Sumatera Utara diantaranya adalah tari Tor Tor Sepitu Cawan dan tari Tor Tor Tandok. Dalam tarian Tor Tor Tanduk membutuhkan atribut berupa tas yang terbuat dari bahan anyaman.

            Meskipun tas anyaman ini tidak selalu dipakai saat menari di awal pertunjukan. Akan tetapi di penghujung tarian, tas anyaman harus disertakan untuk melakukan beberapa gerakan tari yang melibatkan tas anyaman tersebut.

5.      Mangkok Kecil atau Cawan

 Properti Tari Tor Tor "Mangkok Kecil atau Cawan"

         Dalam pertunjukan tari Tor Tor Sepitu Cawan, maka penari wajib menggunakan mangkok kecil atau cawan sebagai properti pelengkap saat melakukan gerakan tarian. Biasanya cawan tersebut akan diletakkan pada tubuh penari Tor Tor mulai dari bagian atas kepala, lengan sampai dengan telapak tangan.

        Bagi orang awam mungkin akan terlihat sulit untuk melakukan gerakan tarian dengan meletakkan cawan pada bagian tubuhnya. Namun bagi masyarakat Batak merupakan hal yang  biasa, karena mereka sudah cukup profesional, maka atribut tersebut tidak akan jatuh ketika melakukan gerakan tarian.

6.      Alat Musik Gondang Sambilan

 Alat Musik Gondang Sambilan

          Gondang Sembilan merupakan properti tari Tor Tor khas Batak Toba Provinsi Sumatera Utara yang digunakan untuk mengiringi musik tarian tersebut. Masyarakat Mandaling menyebutnya Gendang Sembilan, karena jumlah gendang yang dimainkan jumlahnya adasembilan. Jumlah gendang yang dimainkan merupakan jumlah terbanyak di daerah Suku Batak.

         Karena jumlah gendang yang dimainkan di wilayah lainnya lebih sedikit, seperti Batak Pakpak yang hanya berjumlah delapan, Batak Simalungun memiliki tujuh buah dan yang terakhir yaitu di wilayah Batak Karo yang hanya berjumlah dua buah gendang.

 

2.7            Perkembangan Tari Tor-Tor Sipitu Cawan

        Dalam perkembangannya, Tari Tor Tor Sipitu Cawan masih terus dilestarikan hingga sekarang. Tarian ini masih sering ditampilkan di berbagai acara seperti pengukuhan raja atau ketua adat, penyambutan tamu terhormat, dan upacara adat lainnya. Selain itu tarian ini kini juga mulai sering ditampilkan di berbagai acara pertunjukan seperti pertunjukan seni, festival budaya maupun promosi pariwisata. Hal ini tentu dilakukan sebagai usaha pelestarian dan memperkenalkan kepada generasi muda serta masyarakat luas akan Tari Tor Tor Sipitu Cawan ini

 

 

BAB III

PENUTUP

 

3.1            Kesimpulan

            Tor-tor Batak adalah identitas seni budaya masyarakat Batak yang harus dilestarikan dan tidak lenyap oleh perkembangan zaman dan peradaban manusia. Tari Tor-tor Batak mengandung nilai-nilai etika, moral dan budi pekerti yang perlu ditanamkan kepada generasi muda. Dan ini merupakan tugas kita bersama sebagai warga negara Indonesia agar tidak ada lagi seni budaya asli peninggalan nenek moyang bangsa kita yang diklaim oleh negara lain.

Makna tarian Tor-tor pada zaman dahulu saat agama belum berkembang di Sumatera Utara berbeda dengan tarian Tor-tor saat ini. Perbedaan tersebut tidak menghilangkan identitas dari nilai yang dikandung dalam tarian Tor-tor. Perbedaan hanya pada tujuan tarian yang dahulu ditujukan pada roh halus dan saat ini lebih kepada hiburan dan tarian seremonial acara demi menghormati upacara, tetua adat dan  khalayak yang ada pada saat tarian dilakukan.

.                                                                            

 

DAFTAR PUSAKA

v  http://www.negerikuindonesia.com/2015/12/tari-tor-tor-sipitu-cawan-tarian.html

v  http://sopopanisioan.blogspot.com/2014/05/sejarah-dan-makna-tortor-sipitu-cawan.html

v  https://rimbakita.com/tari-tor-tor/

v  https://ruangguru.co/tari-tor-tor/

v  http://cerdasxsis.com/smart-articles/interesting-facts/sejarah-dan-makna-tari-tor-tor

 

Komentar